F.R.I.E.N.D.S.H.I.P
How to
spell it??
Bahkan
untuk sekedar mengejanyapun begitu sulit buat saya..
Sahabat,
persahabatan, or anythingelse, percakapan jutaan orang di twitter, blog, dan
jejaring sosial lainnya..
Seperti
kicau kacau Indra Herlambang bahwa Setiap orang memang punya
pandangan sendiri soal yang namanya pertemanan.Dan soal urusan ini, saya memang
harus mengakui, bahwa dalam dunia perkawanan, saya mungkin bukan sahabat yang
terbaik.Tapi rasanya sebagai seorang teman saya cukup bisa diandalkan.Walaupun
sering sekali melupakan hal penting macam tanggal ulang tahun atau detail lain
yang sering dianggap sebagai resep utama dalam menjaga hubungan persahabatan,
saya cukup fanatik dalam urusan kesetiakawanan.saya percaya bahwa dalam satu
titik kita sudah membahasakan diri sebagai teman untuk seseorang, seumur hidup
kita harus siap untuk bertanggung jawab atas predikat yang luhur itu. Siap
untuk membantu setiap teman dalam kesulitan.Siap datang kapanpun kehadiran kita
mereka butuhkan.Namun jika melihat jumlah teman yang mengerut seiring jumlah
umur yang membengkak, apakah memang benar pendapat orang yang mengakatak bahwa
dalam hal pertemanan ,manusia memang harus menyerah pada seleksi alam ?
Terlepas dari sifat seseorang, introver atau ekstrover, outgoing atau
super pemalu, sepertinya semua manusia pasti ingin memiliki banyak teman.
Biasanya dua orang bisa menjadi kawan saat disatukan oleh banyak persamaan. Di
awal sekolah dulu, teman adalah mereka yang ada di satu kelas, satu sekolah di
lingkungan rumah, atau dalam lingkup keluarga besar. Selalu ada kesamaan tempat
atau kegiatan yang menjadi faktor pemicu persahabatan. Setelah beranjak dewasa
dan semua memilih jalan hidup yang berbeda, kita akan menemukan kalau secara
perlahan teman yang kita punya seolah hilang dari keseharian. Satu demi satu.
Mungkin karena pertemanan perlu dipupuk dengan intensitas perjumpaan dan waktu.
Jarak dan aktifitas yang berbeda mau tidak mau akan ikut membantu renggangnya
hubungan yang kita punya dulu.Apakah karena itu juga maka sekarang ada diantara
kita yang sepertinya tidak terlalu banyak punya teman dekat?
Konsep pertemanan seperti ini sebenanya agak menakutkan. Karena kita seolah
dibenarkan untuk menyerah dan tidak lagi berjuang untuk sebuah hubungan persahabatan
ketika semesta memilihkan jalan yang berbeda untuk langkah hidup kita.Tapi
bagaimana lagi? Berapa sering kita bertemu dengan sahabat lama yang dulu sempat
terasa begitu dekat namun kini tampak seperti orang asing karena sudah tidak
nyambung?? Pasti harus diakui bahwa terkadang dibutuhkan banyak kesamaan untu
membuat dua orang bertahan dalam satu hubungan persahabatan.
Alam seperti menyeleksi teman yang kita punya.Tempat dan kegiatan serta ruang
lingkup kehidupan menjadi kunci penentu yang akhirnya memutuskan mana teman
yang tetap tinggal, mana teman yang akan menghilang. Ini mungkin hanya pikiran
pesimis saya saja. Bukankah sebenarnya teman akan selalu ada? Mungkin dalam
bentuk orang yang berbeda,tapi esensinya sama. Hidup akan selalu mempertemukan
kita dengan tean yang baru. Dan tekhnologi internet dan jejaring sosial yang
begitu canggih saat ini bisa membantu kita untuk kembali menemukan para sahabat
yang dulu pernah dekat.Namun tetap saja, saya tidak bisa berhenti berpikir
bahwa sebenarnya pada akhirnya kita sendiri yang punya kekuatan untuk
mempertahankan mereka yang harus tetap ada dalam hidup kita.Sekarang
pertanyaannya seberapa keras kita melakukan usaha itu ? tiga puluh tahun
lagi akankah anak saya bisa menemukan saya berbincang gembira dengan seorang
sahabat lama??
Saya tahu sekali apa yang seharusnya saya lakukan sekarang.Mengambil telefon
dan mencoba untuk kembali berbincang dengan mereka yang nyaris terlupakan .
. .“

Tidak ada komentar:
Posting Komentar